Ni
Blog Universitas Komputer Indonesia

Mengenal Craniosynostosis, Kelainan Tengkorak Bayi yang Dipicu Crouzon Syndrome

Mengenal Craniosynostosis, Kelainan Tengkorak Bayi yang Dipicu Crouzon Syndrome
Hadiah terindah dan terbesar yang diterima oleh orangtua adalah saat anaknya lahir dengan kondisi sempurna dan sehat. Meski sudah menjaga tumbuh kembang janin selama dalam kandungan, tetap saja ada kemungkinan risiko bayi lahir cacat. Salah satu bentuk cacat lahir bayi adalah craniosynostosis yang dipicu oleh beberapa sindrom seperti Crouzon syndrome, sindrom apert, dan sindrom pfeiffer.
 
Craniosynostosis merupakan kondisi kelainan tulang tengkorak ketika bayi lahir. Hal ini akan membuat ubun-ubunnya tertutup sebelum waktunya ketika dilahirkan. Kondisi ini akan membuat kepala bayi terlihat tidak normal, otak bayi juga kurang berkembang dengan maksimal. 

Fakta Seputar Craniosynostosis
Untuk mengenal kelainan ini lebih lanjut, berikut beberapa fakta terkait craniosynostosis yang dialami oleh bayi.

Tanda dan Gejala Craniosynostosis
Tanda dan gejala kelainan craniosynostosis yang terlihat saat lahir biasanya akan lebih jelas hingga beberapa bulan pertama setelah dilahirkan. Kondisi yang dimaksud seperti:
  1. Posisi salah satu telinga bayi akan lebih tinggi dibanding telinga lainnya
  2. Bentuk kepala bayi terlihat lebih kecil dibanding ukuran kepala bayi seusianya
  3. Bentuk dahi seperti segitiga dengan bagian belakang kepala lebar
  4. Ubun-ubun bayi tidak terasa saat dipegang
  5. Perkembangan bentuk kepala tidak normal, lebih pipih, memanjang, atau terlihat datar ketika dilihat dari salah satu sisi.
Penyebab Craniosynostosis
Craniosynostosis sebenarnya tidak diketahui penyebabnya, namun sering dikaitkan dengan penyakit genetik.
  • Craniosynostosis nonsyndromic merupakan tipe paling umum yang belum diketahui penyebabnya. Ini biasanya dikaitkan dengan kombinasi faktor genetik dan kondisi lingkungan.
  • Craniosynostosis syndromic yang disebabkan oleh beberapa sindrom genetik. Seperti Crouzon syndrome, sindrom Apert, atau pun sindrom Pfeiffer yang bisa memengaruhi perkembangan tengkorak bayi.
Bayi yang lahir dengan kelainan craniosynostosis risikonya akan meningkat pada wanita hamil yang mengalami penyakit tiroid. Selain itu, obat penyubur kandungan yang dikonsumsi sebelum hamil bisa memicu terjadinya craniosynostosis ini.
 
Komplikasi Kesehatan pada Bayi Craniosynostosis
Kondisi kelainan ini perlu ditangani dengan cepat dan segera. Sebab, apabila penanganannya ditunda, bisa memunculkan risiko gangguan otak seiring berjalannya usia anak.
 
Kelainan tulang tengkorak juga akan menyebabkan kecacatan bentuk wajah, seperti pada penderita Crouzon syndrome. Tentu ini akan mengurangi kualitas hidup anak di masa mendatang. Komplikasi yang berdampak pada perkembangan anak karena kelainan craniosynostosis ini berupa:
  • Berisiko mengalami kebutaan seiring bertambahnya usia anak
  • Anak berisiko mengalami kejang tiba-tiba
  • Anak mengalami gangguan pergerakan bola mata hingga mengalami kebutaan
  • Anak mengalami gangguan kognitif, terlebih dalam belajar dan memengaruhi cara berpikirnya
  • Menyebabkan perkembangan anak mengalami keterlambatan
Pengobatan Craniosynostosis
Bayi yang mengalami craniosynostosis akan mengalami kondisi yang berbeda-beda. Ada yang memerlukan pengobatan khusus, namun ada juga yang membutuhkan penanganan seperti operasi untuk kasus dengan tingkat keparahan serius.
 
Bayi dengan kelainan ini biasanya akan disarankan oleh dokter untuk diberikan helm khusus yang gunanya untuk memperbaiki bentuk tengkorak bayi. Ada 2 jenis operasi yang bisa dilakukan sebagai pengobatan bayi terlahir craniosynostosis, yaitu:
 
  • Bedah terbuka, yang dilakukan saat bayi berusia di atas 6 bulan. Operasi ini memiliki panduan yang lebih kompleks.
  • Bedah endoskopi yang bisa dilakukan saat bayi masih berusia di bawah 6 bulan. Meski tidak membutuhkan transfusi darah, setelah melakukan bedah ini akan perlu waktu untuk merapikan bentuk tulang tengkorak bayi.
Pengobatan dengan cara operasi ini tujuannya untuk memperbaiki bentuk kepala yang tidak normal, mencegah atau mengurangi terjadinya tekanan pada otak bayi, menciptakan ruang untuk otak agar bisa tumbuh dan berkembang secara normal.
 
Sama seperti penderita Crouzon syndrome, bayi yang mengalami craniosynostosis memiliki masalah pada bentuk kepala, maka bisa jadi anak juga mengalami permasalahan psikologis.
Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Kamis, 26 November 20 - 09:32 WIB
Dalam Kategori : CROUZON SYNDROME, KELAINAN GENETIKA, CACAT LAHIR
Dibaca sebanyak : 164 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback