Ni
Blog Universitas Komputer Indonesia

Fiksasi, Ketika Seseorang Terjebak dalam Suatu Hal

Fiksasi, Ketika Seseorang Terjebak dalam Suatu Hal
 
Pernahkah Anda merasa begitu fokus pada suatu hal atau merasa terjebak di suatu tempat dan merasa mustahil untuk melewatinya? Dalam psikologi, ini disebut dengan fiksasi.
Konsep fiksasi pertama kali muncul dari teori psikoseksual yang dicetuskan Sigmund Freud. Fiksasi terjadi ketika seseorang tidak mampu menyelesaikan tahapan psikoseksual sehingga terjebak pada hal tersebut. Merokok, menggigit kuku atau benda lain termasuk contoh fiksasi.
Bagaimana fiksasi bisa terjadi?
Menurut Freud, anak-anak berkembang melalui tahapan psikoseksual dimana energi libidinal id terfokus pada berbagai area tubuh. Area tersebut meliputi mulut, anal, dan alat kelamin. Ia percaya perkembangan kepribadian orang dewasa yang sehat merupakan hasil keberhasilan melalui 5 tahapan tersebut dengan sempurna.
Ketika seorang anak gagal di satu tahap, ia akan terjebak pada tahap tersebut yang disebut dengan fiksasi. Hingga dewasa ia akan terpaku pada fase itu sampai ia benar-benar bisa menyelesaikan masalah tersebut.
Tahap perkembangan berperan dalam pembentukan kepribadian. Seseorang yang mengambangkan fiksasi akan menghasilkan kepribadian, perilaku, atau kebiasaan yang cukup berbeda dengan orang lain. Misalnya, seseorang yang memiliki kecenderungan untuk menggigit kuku atau ujung pulpen sebagai akibat dari fiksasi oral dimana ia disapih terlalu dini.
Melihat fiksasi dari kacamata tokoh lain
Seiring perkembangannya, banyak tokoh psikolog yang tidak setuju dengan pandangan Freud mengenai fiksasi. Ditambah lagi kepribadian dan perilaku manusia sangat kompleks sehingga perlu pandangan lebih luas untuk menentukan faktor penyebab perilaku seseorang.
Perspektif fiksasi pun berevolusi. Berikut definisi fiksasi menurut beberapa tokoh:
  • Melanie Klein
Klein merupakan salah satu tokoh psikoanalisis. Ia memfokuskan diri pada perilaku paranoid-skizoid dan depresi, sehingga konsep fiksasinya tak jauh sebagai masalah patologis.
 
Menurutnya orang-orang menekan ingatan mereka secara tidak sadar (represi) sebagai bentuk perlindungan diri dari ingatan yang menyakitkan. Karena ingatan tersebut telah diblokir, seseorang terpaku pada peristiwa itu karena mereka tidak mengalami penyelesaian.
 
 
 
 
  • Erik Erikson
Erikson memiliki pendapat yang hampir sama dengan Freud. Ia percaya bahwa fiksasi berkaitan dengan libido, dan libido berperan dalam membantu manusia mengatur banyak hal secara mental. Fiksasi yang dimiliki pada tingkat perkembangan sebelumnya membantu memahami masalah di kemudian hari.
 
  • Eric Berne
Eric Berne mengembangkan teori seputar analisis transaksional. Berdasarkan teori tersebut, perilaku dan hubungan sosial merupakan cerminan dari interaksi ego antara orang tua, orang dewasa, dan anak-anak.
 
  • Heinz Kohut
Heinz Kohut mengembangkan teori yang relatif baru yang disebut dengan Self-Psychology. Teori ini sebagai bentuk ketidaksetujuan terhadap konsep Freud yang mendasarkan masalah perkembangan pada dorongan seksual dan agresif.
 
Menurutnya, manusia berkembang dari konsep diri. Fiksasi terjadi karena ada kekurangan selama pembentukan konsep diri. Peristiwa tidak menyenangkan pada tahap awal perkembangan, seperti pola asuh dan kurangnya perhatian orang tua, dapat mengganggu perkembangan self.
Bisakah fiksasi ditangani?
Bayi menggunakan mulut mereka sebagai cara untuk menenangkan diri atau mengeksplorasi dunia baru. Umum bagi anak-anak mengalami fiksasi oral, seperti kesulitan berhenti mengisap, menggigit, mengunyah, atau memasukkan sesuatu ke dalam mulut mereka. Namun jika fiksasi terus berlanjut maka anak perlu bantuan terapis untuk mengatasi masalah tersebut.
Bagi remaja dan orang dewasa, perawatannya berfokus pada kesadaran dan pengendalian pikiran. Mengatasi fiksasi lebih baik dengan meminta bantuan dokter. Anda bisa mendiskusikannya secara langsung melalui aplikasi kesehatan SehatQ.
Download sekarang di App Store atau Google Play Store.
Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Selasa, 05 Januari 21 - 17:25 WIB
Dibaca sebanyak : 150 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback