Ni
Blog Universitas Komputer Indonesia

Minyak Jelantah Boleh Digunakan, Tapi dengan Ciri Berikut Ini

Minyak Jelantah Boleh Digunakan, Tapi dengan Ciri Berikut Ini
 
 
Jika Anda membeli gorengan di pinggir jalan atau membeli makanan di suatu tempat dan melihat minyak yang digunakan sudah berwarna cokelat atau bahkan kehitaman, Anda perlu waspada terhadap minyak jelantah yang digunakan. Minyak jelantah ini adalah hasil dari minyak goreng yang dipanaskan secara berulang kali.
 
Beberapa orang menggunakan minyak goreng secara berulang karena alasan ekonomis. Penggunaan minyak jelantah ini diyakini dapat menghemat biaya untuk mengolah makanan. Memang, minyak jelantah boleh digunakan, namun dengan beberapa syarat yang perlu dipenuhi. Health Promotion Board Singapura menjabarkan ciri minyak jelantah yang boleh digunakan untuk mengolah masakan, antara lain:
 
  • Tidak memiliki bau: minyak jelantah umumnya memiliki bau tengik dengan tekstur minyak yang lebih kental atau lengket. Bau tengik dan tekstur kental ini dapat menjadi tanda bahwa minyak jelantah sudah tidak layak digunakan Kembali.
  • Belum digunakan lebih banyak dari dua kali: Ciri minyak jelantah yang telah dipanaskan berkali-kali biasanya memiliki warna yang lebih kental dan berbau.
Tahukah Anda bahwa penggunaan minyak goreng lebih dari dua kali pemanasan dapat memicu produksi radikal bebas pada makanan yang diolah, sehingga menjadikan vitamin dan kandungan makanan tersebut menurun? Ya, itu adalah salah satu dampak negatif yang perlu Anda waspadai.
 
  • Tidak berwarnapekat: warna minyak jelantah yang tidak layak konsumsi biasanya berwarna cokelat atau hitam. Jika sudah begitu, sebaiknya Anda gunakan minyak goreng baru.
Ketika selesai memasak, minyak jelantah yang masih berwarna bening, dapat Anda saring untuk memisahkan remah-remah sisa bahan makanan, sehingga tidak ikut tersimpan. Setelah itu, Anda dapat menyimpan minyak jelantah pada wadah tertutup secara khusus agar tidak terpapar oleh udara maupun cahaya. Anda juga dapat menyimpannya di kulkas dengan bantuan ice tray, sehingga minyak jelantah dapat digunakan langsung sesuai dengan porsi yang diinginkan.
 
Lalu, bagaimana dengan bahaya penggunaan minyak jelantah? Seberapa tinggi risiko gangguan kesehatan yang mungkin muncul?
 
Makanan yang diolah dengan minyak jelantah, tidak hanya memiliki aroma yang tidak sedap, namun juga merusak cita rasa dari makanan itu sendiri. Di samping itu, nilai gizi yang terkandung dalam makanan tadi akan menurun, bahkan dapat membahayakan kesehatan tubuh.
 
Penggunaan minyak jelantah secara berulang kali mempercepat terjadinya proses oksidasi yang memicu produksi radikal bebas dan senyawa beracun lainnya. Kedua senyawa ini dapat membahayakan kesehatan. Pasalnya, radikal bebas itu sendiri bersifat reaktif, yang berarti dapat menyebabkan perubahan kimiawi dan merusak komponen sel hidup dalam tubuh manusia, seperti kandungan karbohidrat, gugus nonprotein, protein, nukleotida, dan lipid.
 
Rusaknya sel-sel dalam tubuh akibat radikal bebas terjadi secara perlahan, sehingga dampak negatif yang ditimbulkan akibat radikal bebas ini baru akan muncul dalam jangka waktu yang panjang, seiring bertambahnya usia seseorang. Beberapa penyakit atau gangguan kesehatan yang dilaporkan sebagai efek samping penggunaan minyak jelantah, yaitu:Diabetes.
  • Penuaan dini yang ditandai dengan munculnya kerutanpada kulit, rambut yang memutih, atau rontok dalam volume yang lebih banyak.
  • Penyakit kardiovaskular akibat arteri jantung yang tersumbat.
  • Penyakit yang menyerang sistem saraf pusat, termasukotak maupun tulang belakang, seperti demensia dan Alzheimer.
  • Munculnya katarak atau gangguan penglihatan lain.
  • Penyakit yang bersifat genetik, seperti Parkinson dan Huntington.
  • Penyakit yang berkaitan dengan sistem imun, seperti kanker atau rheumatoid arthritis.
Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Rabu, 19 Agustus 20 - 10:10 WIB
Dalam Kategori : MINYAK JELANTAH
Dibaca sebanyak : 70 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback