Ni
Blog Universitas Komputer Indonesia

Menilik Hukum dan Bahaya Aborsi bagi Kesehatan Wanita

Menilik Hukum dan Bahaya Aborsi bagi Kesehatan Wanita
 
Banyak alasan bagi seorang wanita untuk menggugurkan kandungannya. Namun, sebelum melakukannya, wanita harus tahu apa bahaya aborsi bagi kesehatannya. Terlebih jika aborsi dilakukan tanpa bantuan petugas medis yang profesional.
Menggugurkan kandungan mungkin adalah pilihan yang sulit dan pahit untuk dijalani. Namun, ini juga jadi jalan keluar dari kehamilan yang tidak direncanakan.
Namun, akses pelayanan aborsi yang baik hingga sekarang memang sulit didapatkan. Padahal dengan melarang akses aborsi ini dapat meningkatkan risiko melakukan aborsi ilegal dan dapat mengancam jiwa, atau depresi jangka panjang. Hal ini berkaitan juga dengan hukum dan aturan di Indonesia yang melarang aborsi kecuali untuk alasan medis.
Hukum Aborsi di Indonesia
Dalam Undang-undang nomor 36 tahun 2009 mengenai Kesehatan Reproduksi, tertulis bahwa setiap orang dilarang melakukan aborsi. Namun ada dua kondisi yang diizinkan menggugurkan kandungan, yaitu kasus gawat darurat yang dapat mengancam keselamatan ibu dan janin, dan bagi korban pemerkosaan.
Mengacu pada UU, aborsi hanya dapat dilakukan:
  • Sebelum kehamilan berusia enam minggu, kecuali pada kasus gawat darurat medis
  • Dilakukan atas persetujuan wanita hamil dan suami (kecuali pada korban pemerkosaan)
  • Hanya oleh penyedia layanan kesehatan yang bersertifikat, kompeten, dan berwenang.
  • Hanya oleh tenaga kesehatan yang ahli dan yang ditetapkan oleh menteri.
Jelas saja, aborsi yang tidak termasuk dalam kondisi di atas adalah ilegal. Pelaku dan pasien tentunya disebut melanggar hukum.
Alasan Wanita Ingin Menggugurkan Kandungan
Ada beragam alasan wanita ingin melakukan aborsi. Salah satunya karena kehamilan terjadi di waktu yang tidak tepat, sehingga hal ini akan memberikan dampak jangka panjang bagi kualitas hidup ke depannya.
Banyak wanita yang hamil saat masih sangat muda, umumnya sebelum usia 18 tahun atau lulusan SMA. Mereka yang sudah melahirkan kemungkinan besar tidak melanjutkan jenjang pendidikannya. Ini akan menghambat kesempatan wanita untuk menghidupi keluarga dan mendapat pekerjaan yang stabil.
Banyak efek dari kehamilan yang tidak direncanakan. Terlebih bagi wanita lajang yang penghasilannya hanya cukup untuk hidup sendiri, wanita yang harus merawat kerabat lanjut usia di rumah, dan kondisi lainnya. Selain itu, kehamilan yang tidak mendapatkan perawatan medis yang baik berisiko mengalami komplikasi selama kehamilan dan berlanjut pada tumbuh kembang bayi.
Kondisi finansial yang tidak baik, terganggunya pendidikan dan karir, hingga ketidakmampuan merawat bayi menjadikan wanita yang ditinggal pasangan atau wanita yang tidak memiliki hubungan komitmen memilih untuk menggugurkan kandungannya.
Menurut catatan WHO, di negara-negara berkembang ada sekitar tujuh juta wanita yang harus menjalani perawtaan medis di rumah sakit akibat melakukan aborsi yang tidak aman. Kebanyakan, kondisi ini disebabkan karena mereka mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Oleh karenanya, perlu kerja sama dari semua pihak agar dapat mencegah adanya kehamilan yang tidak diinginkan tersebut. Salah satu caranya dapat dengan memberikan pendidikan seks dini pada anak di rumah oleh orang tua maupun oleh guru di sekolah.
Bahaya Aborsi yang Dapat Terjadi
Aborsi yang dilakukan secara aman atau legal, dan aborsi ilegal sama-sama memberikan risiko gangguan medis. Menggugurkan kandungan pada trimester pertama punya risiko yang lebih rendah dibanding aborsi di akhir kehamilan.
Apa saja bahaya aborsi yang mungkin saja terjadi? Berikut detailnya.
  • Infeksi Rahim
Biasanya ini terjadi pada 10 persen dari semua kasus aborsi yang dilakukan. Infeksi rahim ini disebabkan oleh adanya infeksi bakteri.
  • Pendarahan Hebat
1 dari 1.000 kasus aborsi berisiko mengalami pendarahan pada prosedur aborsi. Bahkan pada kasus yang parah, pasien aborsi memerlukan transfusi darah.
  • Kerusakan Leher Rahim
Serviks atau leher rahim bisa saja rusak akibat aborsi. Biasanya ini terjadi melalui prosedur kuret.
  • Tertinggalnya Sisa Jaringan Janin di Rahim
Tak jarang ada kasus aborsi yang membuat jaringan janin tertinggal atau terperangkap dalam rahim. Sehingga mau tidak mau dokter harus melakukan penanganan lanjutan untuk membersihkan sisa-sisa jaringan tersebut.
  • Kerusakan Rahim
Selain leher rahim, bahaya aborsi juga dapat terjadi pada rahim itu sendiri. Ini juga sering terjadi pada prosedur kuret. Sedangkan kasus aborsi dengan obat kemungkinan mengalami kerusakan rahim lebih kecil.
  • Aborsi yang Gagal
Bahaya aborsi selanjutnya adalah proses menggugurkan kandungan gagal dilakukan sehingga kehamilan berlanjut. Pada kondisi ini, penanganan medis perlu dilakukan sebab kondisi janin dan kehamilan kemungkinan mengalami komplikasi.



Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Jumat, 07 Agustus 20 - 09:27 WIB
Dibaca sebanyak : 109 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback