Ni
Blog Universitas Komputer Indonesia

Mengenal Jenis-Jenis Praktik BDSM yang Kontroversial

Mengenal Jenis-Jenis Praktik BDSM yang Kontroversial
 
 
Praktik BDSM hingga saat ini masih menjadi praktik yang kontroversial, khususnya di kalangan masyarakat Indonesia. Banyak orang menganggap praktik ini sebagai bentuk dari kekerasan dan gangguan mental. Namun, banyak penelitian yang menunjukkan bahwa BDSM justru bisa meningkatkan kondisi kesehatan, asal dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama.
 
BDSM merupakan singkatan dari Bondage, Dominance, Sadism, and Masochism. Dengan kata lain, praktik ini melibatkan perbudakan, dominasi, sadisme, dan masosisme. Pelaksanaannya dilakukan dengan mengambil peran, dimana salah satu pasangan bersikap dominan sementara pasangan lainnya tunduk pada pihak yang mendominasi.
 
Jenis-jenis praktik BDSM
Dalam praktiknya, BDSM terdiri atas beberapa jenis. Jenis-jenis BDSM antara lain:
  • Perbudakan
Perbudakan pada BDSM adalah aktivitas saat salah satu pasangan diikat, diborgol, digantung, atau ditahan. Mereka yang diikat atau diborgol adalah pihak yang tunduk pada pihak yang dominan.
  • Permainan sensasi
Permainan sensasi dilakukan dengan menciptakan sensasi fisik yang intens. Biasanya, sensasi ini didapat dari kekerasan fisik. Permainan ini akan melibatkan penggunaan alat-alat khusus, seperti bulu, penjepit puting susu, lilin panas, es batu, dan lain-lain.
  • Bermain peran
Bermain peran merupakan jenis BDSM yang dilakukan dengan mengambil peran, seolah-olah Anda dan pasangan adalah sosok lain. Biasanya, peran yang digunakan adalah peran yang memiliki dinamika kekuatan tertentu, seperti guru dan murid, majikan dan budak, dokter dan pasien, dan lain sebagainya.
  • Permainan fetish
Permainan fetish melibatkan aktivitas seksual yang intens pada suatu objek atau bagian tubuh tertentu. Anda dan pasangan mungkin akan merasakan kenikmatan khusus saat menggunakan kostum tertentu. Selain itu, permainan ini juga banyak melibatkan kaki, ketiak, tengkuk, topeng, kostum, dan lain sebagainya.
 
Hal yang perlu diperhatikan saat melakukan praktik BDSM
Menurut penelitian, praktik BDSM bisa menjadi sarana yang tepat untuk menghilangkan stres dan membangun keintiman dengan pasangan. Akan tetapi, BDSM yang dilakukan dengan cara yang salah justru akan menjadi ajang kekerasan dan memicu gangguan mental.
Oleh sebab itu, ada tiga hal utama yang perlu diperhatikan ketika akan melakukan BDSM, yaitu:
  • Aman
Banyak orang menyalahartikan BDSM sebagai ajang untuk melukai pasangan. Akan tetapi, praktik BDSM yang sebenarnya adalah praktik yang aman, baik untuk pasangan maupun bagi Anda.
BDSM sebaiknya dilakukan atas kesepakatan bersama. Dengan begitu, Anda dan pasangan bisa saling memastikan untuk tidak melukai satu sama lain atau melakukan gerakan yang berlebihan.
  • Waras
Praktik BDSM bukanlah praktik yang melewati batas kesadaran dan di luar akal sehat. Sebelum aktivitas ini dilakukan, Anda dan pasangan perlu saling mengomunikasikan batasan-batasan yang disepakati. Lakukan komunikasi sebanyak mungkin untuk menghindari melukai pasangan.
BDSM dilakukan atas dasar kepercayaan. Oleh sebab itu, kesepakatan bersama sebaiknya tidak dilanggar.
  • Konsensual
Sebelum memulai, Anda dan pasangan harus melakukan diskusi menyeluruh terkait batasan yang ditentukan. Selain itu, diskusikan juga mengenai pelaksanaan yang aman bagi kedua belah pihak.
 
Penting bagi Anda untuk saling memberikan persetujuan sejak awal sebelum mulai melakukan praktik BDSM. Saat permainan dimulai, Anda mungkin akan merasakan penderitaan fisik, pengekangan, dan perlawanan. Untuk itu, perlu adanya diskusi mendalam agar tidak terjadi kesalahan dalam pelaksanaannya.
 
Praktik BDSM bukanlah praktik yang berbahaya, selama pelaksanaannya dilandaskan pada persetujuan kedua belah pihak. Apabila dilakukan dengan benar, praktik ini bahkan bisa meningkatkan kondisi kesehatan, khususnya kesehatan mental.


Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Jumat, 14 Agustus 20 - 12:06 WIB
Dalam Kategori : BDSM
Dibaca sebanyak : 44 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback