Ni
Blog Universitas Komputer Indonesia

Kelompok Perokok Berpeluang Lebih Rentan Terkena COVID-19

Kelompok Perokok Berpeluang Lebih Rentan Terkena COVID-19
Sudah banyak penelitian yang mengatakan bahwa perilaku merokok dapat mengganggu kinerja paru-paru hingga memicu komplikasi penyakit lainnya, seperti kanker atau penyakit jantung. Penelitian-penelitian tersebut terus diperbaharui dan dikembangkan.
 
Baru-baru ini, di tengah masa pandemi COVID-19 World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa perokok memiliki peluang lebih tinggi dan rentan terinfeksi COVID-19. Hal ini dikarenakan kebiasaan dari merokok itu sendiri, yang tanpa disadari akan membuat perokok sering memegang wajah.
 
Ketika seseorang menghisap batang rokok, secara tidak sadar ia akan berulang kali mendekatkan tangannya ke mulut. Perilaku ini akan meningkatkan risiko perpindahan virus dari tangan perokok masuk ke dalam mulut.
 
Tidak hanya peluang terinfeksi yang lebih tinggi, namun juga perokok dikatakan akan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih dari COVID-19. Hal ini didukung fakta bahwa pasien positif 01 COVID-19 di Indonesia, yang merupakan perokok aktif, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dapat pulih dibanding dengan ibu atau kakaknya yang bukan perokok.
Ketika pasien tersebut dinyatakan sembuh dan telah keluar dari rumah sakit ketika 17 Maret lalu, ia membutuhkan waktu seminggu lebih hingga batuknya dapat sembuh. Sejak saat itu, pasien belum berani menyentuh rokok atau berdekatan dengan orang yang sedang merokok.
 
Sementara itu, penelitian yang dilakukan di Tiongkok dengan melibatkan 78 pasien COVID-19, merilis hasil penelitian bahwa pasien dengan riwayat merokok lebih rentan menderita pneumonia akibat infeksi virus corona.
 
Penelitian lain juga menyebutkan bahwa, pasien positif COVID-19 yang memiliki penyakit bawaan kronis, memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita komplikasi lebih parah. Salah satu penyakit kronis, seperti penyakit jantung atau kanker adalah perilaku kebiasaan merokok.
 
Tidak hanya itu, para ahli juga menyatakan bahwa perilaku merokok dapat menurunkan imun di paru-paru, sehingga dapat memicu peradangan pada organ tersebut. Hal ini akan berakibat buruk, jika orang tersebut terinfeksi COVID-19.
 
Risiko tinggi terinfeksi COVID-19 ini juga berlaku untuk kelompok pengisap vape atau rokok elektrik. Disebutkan dalam sebuah studi bahwa terdapat indikasi risiko yang sama antara perilaku menghisap vape dengan merokok tembakau, terutama risiko mengalami penyakit paru-paru kronis.
 
Ada baiknya hal ini dijadikan sebuah perhatian untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan terinfeksi dari COVID-19. Selain itu, mulai mencoba berhenti dari kebiasaan merokok maupun mengisap vape dan menjalani gaya hidup sehat dapat menjadi bekal untuk pertahanan diri agar tidak tertular virus corona.
Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Rabu, 08 April 20 - 17:49 WIB
Dalam Kategori : CORONA, COVID 19, VIRUS CORONA
Dibaca sebanyak : 162 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback