Ni
Blog Universitas Komputer Indonesia

Inilah Bahaya Tersembunyi dari Mukbang

Inilah Bahaya Tersembunyi dari Mukbang
Dengan adanya media sosial, orang sangat mudah terhubung. Tren di belahan dunia lain dapat segera tersebar hanya dengan beberapa ‘klik’ saja. Itulah yang terjadi dengan mukbang. Media sosial membuatnya menjadi demikian populer.
 
Apa sebenarnya mukbang ini? Mengapa banyak sekali orang menonton dan membicarakannya?
 
Berkenalan dengan mukbang
Mukbang atau ‘muek-bang’ merupakan singkatan yang berasal dari bahasa Korea. Gabungan dua kata yang berarti ‘makan’ dan ‘siaran’. Jadi, jika digabungkan mukbang berarti aktivitas makan yang disiarkan.
 
Tren mukbang ini mulai bergulir di Korea Selatan sejak tahun 2011. Hingga hari ini, tayangan tersebut masih sangat populer dan diminati, terutama di Youtube. Sang pembuat konten harus makan dalam jumlah yang sangat besar dan menyiarkannya.
 
Karena popularitasnya yang terus meningkat, mulai ada tayangan-tayangan mukbang yang didukung oleh sponsor. Sehingga pembuat konten mukbang atau mukbanger pun dapat meraup keuntungan yang tidak sedikit. Belum lagi, dari jumlah views yang dapat mencapai jutaan kali. Akibatnya, sebagian mukbanger menjadikan produksi konten mukbang sebagai pekerjaan penuh waktu.
 
Apakah hal tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidup? Kemungkinan besar bisa. Persoalannya bukan terletak di sana, melainkan apakah dampaknya bagi kesehatan tubuh pembuat konten?
 
Risiko mukbang bagi kesehatan
Tayangan mukbang bener-benar perlu disikapi dengan sangat bijak. Diharapkan penonton dapat cukup mengerti untuk tidak meniru tayangan tersebut. Biar bagaimanapun, perlu diakui bahwa tayangan ini dapat mendorong orang untuk memiliki kebiasaan makan yang tidak baik dan berbahaya.  
 
Bagi mereka yang terbiasa melakukan mukbang, entah pembuat konten atau penonton, adakah dampak kesehatan yang mengintai?
 
Makan berlebihan
Sebagai tayangan makan makanan tertentu dalam jumlah sangat besar, tentu saja pembuat konten mukbang akan makan berlebihan. Tidak menutup kemungkinan, penonton pun turut terdorong untuk makan berlebihan, dengan jenis makanan seperti yang ditayangkan dalam video tersebut.
 
Makanan yang dikonsumsi biasanya seputar mie, ayam goreng, pizza, aneka fast food, dan rangakaian makanan lain yang tidak dapat dikatakan sehat.
 
Bisakah konten mukbang dibuat dengan jumlah makanan yang secukupnya saja? Tampaknya, tidak memungkinkan. Sebab daya tarik tayangan ini justru pada jumlah makanan yang sangat melimpah dan bagaimana mukbanger dapat menghabiskannya.
 
Bagi tubuh sendiri, hal ini sudah pasti adalah mimpi buruk. Sistem pencernaan harus bekerja sangat keras. Dalam waktu yang panjang, hal ini dapat berujung pada obesitas.
 
Kebiasaan makan yang buruk
Ada riset yang menyebutkan bahwa, perlu waktu paling tidak 21 hari untuk membentuk kebiasaan. Nah, bagi mereka yang sering melakukan mukbang, hal ini dapat menjadi kebiasaan.
 
Kebiasaan buruk, baik dari sisi porsi. Dalam waktu yang sangat singkat, asupan makanan dan kalori sangat besar. Juga kebiasaan buruk dalam pilihan nutrisi. Sebab melihat dari jenis makanan yang dikonsumsi, jelas tidak memenuhi kebutuhan nutrisi seimbang. 
 
Sangat rentan terserang berbagai macam penyakit
Asupan kalori berlebihan dalam waktu yang sangat cepat akan mengganggu metabolisme tubuh. Belum lagi perubahan antara mukbang dan makan dalam porsi normal, semakin mengacaukan sinyal alami tubuh. Dalam waktu panjang, tubuh mungkin tidak akan mampu lagi mengenali rasa lapar dan kenyang.
 
Belum lagi risiko obesitas yang diikuti dengan aneka penyakit degeneratif lain. Sebut saja penyakit jantung, diabetes, perlemakan hati, hingga risiko kanker.
 
Meski konten mukbang berpotensi memberikan banyak keuntungan, mungkin para pembuat konten juga perlu bertanya pada diri sendiri: apakah keuntungan tersebut layak disbanding risiko kesehatan yang mengintai?
Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Selasa, 23 Juni 20 - 12:55 WIB
Dibaca sebanyak : 43 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback