Ni
Blog Universitas Komputer Indonesia

HIV/AIDS dan Seks Anal Tingkatkan Risiko Terkena Abses Anus

HIV/AIDS dan Seks Anal Tingkatkan Risiko Terkena Abses Anus
Dari sekian faktor penyebab abses anus, HIV/AIDS dan seks anal ternyata dapat meningkatkan risiko seseorang terkena infeksi abses anus. Selain dua faktor tersebut, abses anus yang terjadi akibat infeksi pada kantong kelenjar kecil di sekitar anus, dapat juga dipicu oleh beberapa faktor lain, seperti:
 
  • Tersumbatnya kelenjar anus.
  • Kondisi fisura anal atau luka pada saluran anus yang dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi.
  • Penyakit menular seksual.
 
Selain faktor-faktor yang telah disebutkan, abses anus berisiko lebih tinggi dialami oleh seseorang dengan kondisi tertentu, seperti:
 
  • Pasien yang mengalami penyakit radang panggul.
  • Melakukan seks anal (hubungan seks melalui lubang anus).
  • Ibu hamil.
  • Pasien yang mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh, seperti pasien diabetes, pasien yang mengonsumsi obat golongan steroid dalam jangka panjang, maupun pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi.
  • Pasien dengan penyakit pencernaan, seperti infeksi usus maupun kolitis, inflammatory bowel disease, dan divertikulitis.
 
Bagaimana cara mendiagnosis abses anus?
Prosedur diagnosis abses anus pada awalnya akan dilakukan dengan ajuan pertanyaan dari dokter seputar gejala yang dirasakan. Setelah itu, dokter akan merekomendasikan prosedur medis, seperti:
 
  • Pemeriksaan fisik pada anus: pemeriksaan fisik ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat benjolan, atau adanya perubahan warna kemerahan, dan juga rasa nyeri di sekitar anus.
  • Pemeriksaan colok dubur(digital rectal exam): prosedur medis ini dilakukan oleh dokter dengan menggunakan sarung tangan. Dokter akan menggunakan jelly sebagai pelicin sebelum memasukkan jarinya ke dalam lubang anus untuk memeriksa kondisi bagian dalam anus pasien.
  • Pemeriksaan pendukung: secara garis besar, abses anal pada dasarnya dapat didiagnosis secara langsung setelah melakukan pemeriksaan fisik tanpa perlu dilakukan pemeriksaan pendukung. Namun, jika pemeriksaan fisik dianggap tidak dapat memberikan jawaban yang jelas, dokter akan merekomendasikan pasien untuk melakukan pemeriksaan dengan pencitraan rontgen, baik itu dengan CT scan, MRI, maupun USG dan juga laboratorium, seperti menggunakan sampel jaringan (biopsi).
 
Apakah abses anus dapat dicegah?
Mengurangi risiko terkena abses anus dapat dilakukan dengan cara berikut ini:
  • Menjaga kebersihan daerah anus.
  • Mengenakan kondom ketika berhubungan seks. Dengan begitu, Anda dan pasangan akan terhindar dari infeksi penyakit menular seksual.
 
 

 
Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Rabu, 15 Juli 20 - 10:37 WIB
Dibaca sebanyak : 149 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback