Ni
Blog Universitas Komputer Indonesia

Beberapa Hal yang Wajib Diperhatikan dalam Penggunaan Triamcinolone

Beberapa Hal yang Wajib Diperhatikan dalam Penggunaan Triamcinolone

 

Triamcinolone merupakan obat golongan kortikosteroid yang umumnya digunakan untuk mengatasi alergi dan radang karena senyawa aktifnya bekerja dengan memberi efek antiperadangan dan imunosupresif (menekan reaksi imun).

Obat ini bekerja dengan cara menekan sistem pertahanan tubuh, sehingga Triamcinolone perlu diwaspadai karena bisa memengaruhi kondisi alami tubuh. Dengan demikian, ada beberapa kelompok manusia yang perlu mendapat perhatian lebih terkait pengobatan ini:

  • Wanita hamil dan menyusui: Karena studi reproduksi manusia yang adekuat belum dilakukan dengan kortikosteroid, penggunaan obat ini pada wanita hamil, ibu menyusui, atau wanita usia subur harus mempertimbangkan keuntungan dari penggunaan obat dibanding dengan potensi bahaya bagi ibu, embrio, fetus, atau bayi yang menyusu.

  • Bayi yang dilahirkan dari ibu yang mendapat obat kortikosteroid selama hamil: Kelompok ini juga harus mendapat perhatian lebih, karena ada kemungkinan timbulnya tanda-tanda hipoadrenalisme.

  • Pasien yang mendapat terapi kortikosteroid karena stres yang tidak biasa: Karena diindikasikan peningkatan dosis kortikosteroid kerja cepat sebelum, selama dan setelah kondisi stres.

  • Penggunaan kortikosteroid jangka panjang dapat menimbulkan posterior subcapsular cataracts, atau glaukoma yang dapat menimbulkan kerusakan pada saraf optik dan dapat meningkatkan infeksi okular sekunder yang disebabkan oleh jamur atau virus.

  • Retensi garam dan air sebagaimana juga peningkatan ekskresi kalium dapat terjadi, meskipun jarang terjadi pada derivat sintesis seperti triamcinolone dibanding hidrokortison atau kortison, kecuali jika digunakan pada dosis besar. Diet garam dan suplementasi kalium diperlukan. Semua kortikosteroid meningkatkan ekskresi kalium.

  • Pada saat terapi kortikosteroid, pasien tidak boleh divaksinasi cacar air, karena prosedur imunisasi meningkatkan kemungkinan bahaya komplikasi neurologi dan berkurangnya respons antibodi.

  • Penggunaan triamcinolone pada tuberkulosis aktif harus dibatasi, terutama pada kasus-kasus tuberkulosis yang fulminan atau yang menyebar di mana kortikosteroid digunakan untuk penatalaksanaan penyakit bersamaan dengan regimen antituberkulosis yang tepat.

  • Jika kortikosteroid diindikasikan untuk pasien dengan tuberkulosis laten atau reaktivasi tuberkulin, perlu dilakukan observasi yang ketat karena dapat terjadi reaktivasi penyakit. Selama terapi kortikosteroid jangka panjang, pasien harus mendapat kemoterapi.

  • Triamcinolone dosis besar mempunyai kecenderungan lebih besar untuk menimbulkan miopati proksimal.

Jika peringatan di atas diabaikan, bukan tidak mungkin pasien akan mengalami berbagai masalah medis akibat efek samping dari Triamcinolone. Kondisi ini termasuk mereka yang mengonsumsi tanpa resep dari dokter. Efek samping yang mungkin terjadi karena penggunaan Triamcinolone adalah:

  • Gangguan cairan dan elektrolit: Termasuk retensi natrium, retensi cairan, gagal jantung kongestif pada pasien yang rentan, kehilangan kalium, alkalosis hipokalemia, dan hipertensi.

  • Muskuloskeletal: Mulai dari kelemahan otot, fatigue, miopati steroid, kehilangan massa otot, osteoporosis, vertebral compression fracture, nekrosis aseptik kaput tulang paha dan humerus, fraktur patologi dari tulang panjang, hingga fraktur spontan.

  • Gastrointestinal: Ulkus peptikum dengan kemungkinan diikuti perforasi dan perdarahan, pankreatitis, distensi abdomen, dan ulcerative esophagitis.

  • Dermatologi: Gangguan penyembuhan luka, kulit yang rapuh dan tipis, ptechiae dan ekimosis, eritema wajah, berkeringat berlebihan, atrofi lemak subkutan, purpura, striae, hiperpigmentasi, hirsutisme, erupsi jerawat, dan ditekannya reaksi terhadap tes alergi.

  • Neurologi: Efek samping yang dirasakan termasuk konvulsi, peningkatan tekanan intrakranial dengan papiledema (pseudotumor cerebri) biasanya setelah pengobatan, vertigo, sakit kepala, hingga memburuknya kondisi psikiatrik yang sudah ada.

  • Endokrin: Ketidakteraturan menstruasi, timbulnya keadaan chusingoid, supresi pertumbuhan pada anak, tidak beresponsnya adrenokortikal dan pituitari sekunder, penurunan toleransi karbohidrat, manifestasi diabetes melitus laten, dan peningkatan kebutuhan insulin atau obat hipoglikemik oral pada keadaan diabetes.

  • Mata: Posterior subcapsular cataract, peningkatan tekanan intraokular, glaukoma, dan exophthalmos.

  • Metabolik: Seperti hiperglikemia, glikosuria dan keseimbangan nitrogen negatif disebabkan oleh katabolisme protein.

  • Lain-lain: dan kondisi medis lain seperti necrotizing angitis, tromboflebitis, tromboembolisme, memburuknya infeksi atau menutupi gejala infeksi, insomnia, episode sinkop, sampai dengan reaksi anafilaktoid.

Dengan melihat kenyataan yang ada, menjadi penting untuk selalu mengikuti seluruh instruksi yang diberikan dokter, apoteker, maupun yang terdapat di kemasan Triamcinolone agar seseorang bisa terhindar dari sederet kemungkinan buruk dari penggunaan obat ini.

Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Selasa, 22 Desember 20 - 09:41 WIB
Dalam Kategori : TRIAMCINOLONE
Dibaca sebanyak : 222 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback