Ni
Blog Universitas Komputer Indonesia

Alice in Wonderland Syndrome Bukan Halusinasi Visual!

Alice in Wonderland Syndrome Bukan Halusinasi Visual!
Alkisah Alice, si gadis berambut pirang, dapat menyesuaikan postur tubuhnya—menjadi kecil atau besar—setelah mengonsumsi sesuatu yang ada di Wonderland, sebuah dunia paralel yang menakjubkan. Cerita itu berasal dari novel karangan penulis Inggris, Lewis Carrol, berjudul Alice in Wonderland yang terbit pada tahun 1856 silam. Belakangan, ada sebuah kondisi medis yang menjadikan penderitanya seperti tokoh utama dalam karangan tersebut. Kondisi ini dinamakan Alice in Wonderland syndrome.
Tentu saja penderita Alice in Wonderland syndrome tidak benar-benar dapat mengubah ukuran tubuhnya. Kondisi itu terjadi di dalam kepala si penderita. Artinya, penderita hanya merasa atau dapat dibilang bahwa perubahan ukuran tubuh, juga objek yang ada di sekitarnya hanyalah persepsi belaka.
Masalah yang menimpa penderita Alice in Wonderland syndrome tidak sampai di situ saja. Mereka juga mengalami disorientasi terhadap waktu dan juga jarak. Bagi mereka, waktu dapat berjalan amat lambat dan sebaliknya. Pun dengan jangkauan benda-benda di sekitarnya. Mereka dapat meyakini suatu benda berada sangat jauh atau dekat dengan dirinya, meski kenyataan berkata yang sebaliknya.
Selain itu, mereka yang mengalami Alice in Wonderland syndrome dapat menderita gangguan pada berbagai indra, termasuk penglihatan, peraba, dan pendengaran. Jika kita kira-kira, semua situasi yang berkembang pada seseorang dengan Alice in Wonderland syndrome sekilas tak jauh beda dengan mereka yang tengah dalam halusinasi visual yang diakibatkan oleh konsumsi obat-obatan psikedelik.
Bahwa halusinasi visual yang didapatkan setelah mengonsumsi obat psikedelik pun bisa mengubah persepsi seseorang akan benda, objek, atau apa pun, tak terbatas dengan bentuk, jarak, ruang, maupun waktu.
Banyak laporan bahwa orang dengan pengaruh obat psikedelik mendapatkan pandangan objek di depannya menjadi amat besar, kecil, dan berubah entitasnya sama sekali. Juga mereka bisa merasakan ruangan menjadi amat sempit maupun luas, tergantung halusinasi yang terjadi di dalam dirinya.
Pertanyaannya adalah, apakah Alice in Wonderland syndrome memang sesuatu yang sama dengan halusinasi visual yang bisa seseorang dapatkan dari obat-obatan psikedelik?
Jawabannya adalah tiada kesamaan di antara keduanya. Persepsi yang terdistorsi dalam kondisi Alice in Wonderland Syndrome tidak disebabkan oleh gangguan pada mata maupun halusinasi. Sindrom ini terjadi karena adanya gangguan pada mekanisme otak memahami tubuh sendiri maupun lingkungan sekitar.
Memang belum ada kajian, penelitian, atau temuan yang dapat mengungkap penyebab pasti dari kondisi Alice in Wonderland syndrome. Sementara ini semua masih pada tahap dugaan. Kendati demikian, banyak kalangan meyakini bahwa sindrom yang dapat membuat seseorang seperti Alice dalam dongeng legendaris itu terjadi karena aktivitas listrik yang tak biasa di dalam otak. Aktivitas listrik tersebut memicu aliran darah menjadi tidak normal ke bagian otak yang mengolah persepsi visual dan lingkungan.
Adapun kondisi halusinasi visual yang didapat oleh seseorang pengguna obat-obatan psikedilik terjadi lantaran perubahan kinerja senyawa kimia otak atau neurotransmiter yang bertugas dalam mengendalikan suasana hati, emosi, pikiran, ingatan, penglihatan, sentuhan, dan perilaku seks seseorang.
Berdasarkan itu, obat-obatan psikedelik juga disebut halusinogen atau zat, senyawa, atau sesuatu yang menyebabkan halusinasi. Di luar itu, zat yang digolongkan sebagai narkotika ini juga dapat penggunanya merasakan euforia atau perasaan senang, pola pikir terganggu, termasuk perubahan pada sensasi seluruh pancaindra orang yang mengonsumsinya.
Meski begitu, halusinasi viasual tidak hanya bisa disebabkan oleh penyalahgunaan obat-obatan terlarang, halusinasi visual juga berkaitan erat dengan masalah-masalah mental atau kejiwaan.
Nah, berdasarkan sedikit penjelasan di atas, kondisi Alice in Wonderland syndrome merupakan sesuatu yang sama sekali berbeda dengan halusinasi visual, meski pada beberapa situasi gejala atau persepsi yang dirasakan tidak jauh berbeda. Seseorang butuh penanganan dan pendampingan pihak-pihak yang kompeten untuk mengatasi dua masalah ini.



Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Jumat, 04 Desember 20 - 09:30 WIB
Dibaca sebanyak : 90 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback