Ni
Blog Universitas Komputer Indonesia

4 Metode Penanganan Limbah Medis APD dan Masker

4 Metode Penanganan Limbah Medis APD dan Masker
 
Virus Corona atau Covid-19 memang merupakan momok yang menakutkan di tahun ini. Pandemi membuat limbah medis di rumah sakit seperti APD hingga masker juga bertambah jumlahnya dan menumpuk.
Hal ini karena semua perlengkapan yang digunakan oleh tenaga medis hampir semuanya sekali pakai. Sampah berbahaya tersebut jadi menumpuk dan berpotensi bisa mengandung virus yang dapat menular jika dibuang sembarangan.
Cara Mengelola Limbah Medis Berupa APD dan Masker
Tentu pengelolaan dan penanganan limbah medis berupa APD serta masker untuk penggunaan apapun, perlu dikelola dengan benar sesuai dengan panduan dan protokol agar tidak menjadi sumber penularan.
WHO, Kementerian Kesehatan RI, dan pemerintah daerah pun mengeluarkan panduan bagaimana penanganan limbah ini secara benar.
Secara umum, ada empat cara mengelola limbah medis berupa APD dan masker di rumah sakit, puskesmas, klinik, ataupun fasilitas kesehatan lainnya serta di masyarakat.
  • Limbah Dipotong dan Buang
Kementerian Kesehatan maupun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sudah mengeluarkan pedoman bagaimana cara mengelola limbah masker yang digunakan di luar fasilitas kesehatan atau yang digunakan oleh pasien atau ODP.
Berikut cara mengelola limbah masker sekali pakai dari sampah rumah tangga.
  • Masker bekas sekali pakai yang sudah digunakan dilipat menjadi 2 bagian, lalu gulung dan ikat masker dengan tali pengikatnya
  • Robek atau potong masker bekas tersebut menjadi 2 bagian
  • Kemudian, bungkus masker yang sudah dirobek tersebut dengan menggunakan kertas atau tisu
  • Kumpulkan masker dalam satu kantung terpisah dari sampah rumah tangga lainnya. Ikat kantung dengan rapat.
  • Buang sampah masker ke tempat khusus yang disediakan di ruang publik
Masker disarankan untuk dipotong agar tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Agar jumlah sampah tidak menumpuk, bagi masyarakat biasa, sebaiknya menggunakan masker kain yang bisa digunakan berkali-kali setelah dicuci.
  • Sampah APD Dibawa ke Tempat Penampungan Sementara
WHO menyarankan agar limbah APD dari rumah sakit ketika pandemi ini agar dimasukkan ke dalam kantung plasti berwarna kuning duaa lapis. Kemnudian sampah tersebut ditampung selama 72 jam dulu di tempat sementara. Harapannya agar virus-virus yang menempel di APD mati dulu sebelum dibawa ke tempat pembuangan akhir.
  • Metode Penguapan Atau Autoklaf
Menurut WHO dan UNEP, pengelolaan limbah medis ditangani dengan cara autoklaf atau penguapan. Metode ini mengganti metode pembakaran agar mencegah lepasan senyawa organik yang bersifat racun agar tidak bertahan lama di lingkungan.
Dengan mengggunakan metode autoklaf ini, limbah medis jadi lebih steril karena sudah dipanaskan menggunakan uap panas, dicacah, dan dibuang ke tempat pembuangan akhir.
Penagananan sampah APD bisa dilakukan dengan memisahkan APD sesuai jenisnya dan dibawa ke fasilitas penampungan sementara selama 3 hari. Setelah itu, gunakan autoklaf yang dilengkapi mesin pencacah. Lalu limbah akan dibawa ke TPA dengan sampah-sampah lainnya.
  • Insinerasi Atau Pembakaran
Proses insinerasi atau pembakaran sebenarnya bisa menimbulkan limbah B3 alias Bahan Berbahaya dan Beracun.
Sisa bekas pembakaran seperti abu yang terbang di udara, kerak sisa pembakaran, serta emisi yang dihasilkan dari tungku bakar akan mencemari air, udara, dan juga tanah.
Sedangkan untuk limbah medis dari Covid-19 ini sebenarnya tidak perlu dibakar karena virus akan mati setelah berada di permukaan benda-benda selama 72 jam atau mati di temperatur 100 derajat Celsius.
Dari Keempat metode di atas, sebenarnya metode penguapan termasuk yang paling efektif untuk menangani limbah medis dari APD dan masker selama pandemi. Sebab, metode tersebut tidak menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan.
Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Rabu, 23 Desember 20 - 13:38 WIB
Dibaca sebanyak : 330 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback